Wednesday, November 01, 2006

Ramadhan telah berlalu...

Seneng karena masih bisa beridul fitri bareng keluarga, Sedih karena harus berpisah dengan Ramadhan yang penuh berkah, ampunan.....

Sepeninggalnya hati ini sedih tiada terkira karena kualitas ibadahku jauh sangat jauh berbeda dengan ramadhan tahun lalu

Malu rasanya menghisab diri ini karena tiada yang bisa kubanggakan dihadapan-NYA. Amalanku biasa saja tapi dosaku tiada terkira

RABB, ijinkan hambaMU ini untuk membawa semangat Ramadhan menuju 11 bulan perjalanan ke depan. Semoga dengan persiapan 11 bulan ini Ramadhan tahun depan akan lebih baik. JIKA MASIH KAU IJINKAN

Saturday, September 23, 2006

Marhaban ya Ramadan

Terpekur diri ini mengingat Ramadhan tahun lalu. Sungguh indah hari-hari terlewati. Kedamaian terasa hingga sepanjang tahun. Menangis diri ini, akankah Ramadhan kali ini seperti Ramadhan tahun lalu?
Saat ini sederet aktivitas di luar masih menunggu, niat untuk break sejenak tidak kesampaian. Rabb akankah kenikmatan saat beribadah kepadaMU dapat kureguk lagi? Rabb hanya kepadaMU hamba ini memohon semoga Ramdhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan tahun lalu......

Thursday, September 21, 2006

Semasa lagi umurku berkurang

Sejenak kuberhenti, mencoba untuk menoleh ke belakang lagi. Bukan untuk kembali mengungkit semua yang telah terjadi. Bukan bukan itu. Kuiingin mengenang beberapa serpihan kehidupan yang telah terjadi dan mencoba untuk menghitung seberapa jauh langkah ini terayun.

Di belakang sana, banyak sudah yang terjadi. Suka duka, jatuh bangun, gembira kecewa semua telah andil memberi warna kisahku. Ya Rabb, begitu sayangnya Engkau pada hambaMU yg lemah dan bodoh ini. Engkau anugerahkan beragam hikmah kepadaku sepanjang tahun ini.

Setelah sempat jatuh beberapa saat, dengan dukungan orang-orang terkasihku aku berusaha untuk bangkit. Sungguh usaha untuk bangkit ini ternyata sungguh indah, berat memang saat menjalaninya. Alhamdulillah atas karuniaMU lah aku bisa tegak berdiri lagi.

Sungguh, jawaban yang telah menggelayutiku selama 2 tahun ini kudapat sudah. Lega, beribu batu yang menghalangi langkahku terlepas sudah. Walau kenyataan tidak seperti yg kuharapkan tp ini lebih baik rasanya. Kuhadapi semua kenyataan ini. Allah ternyata telah menentukan jalan terbaik untuk kita adalah tidak bersatunya kita.

Beberapa kesempatan datang menghampiri, tapi mengapa selalu saja berakhir dengan belum tercapainya keberhasilan. Ya, Rabb maafkan aku krn terkadang rasa jemu itu menyapaku.

Satu hal yg tidak terbayang datang menemuiku dan membawaku pada lingkungan yang sungguh-sungguh tak terbayang sebelumnya. Sebenarnya berat diri ini menjalani semuanya tapi aku bisa mundur. Orangtuaku sangat bangga dengan keberdaanku sekarang. Semampuku berusaha untuk bertahan dan menjalani semua ini. Rabb, berikan jalan keluar atas semua ini.

Seperti apapun kenyataan yang harus kuhadapi aku tetap bersyukur karena dipilih untuk menghadapi semua ini. Alhamdulillah atas semuanya.

Monday, September 11, 2006

Berusaha berkata baik atau diam

Subhanalloh, itulah kata pertama yang terucap saat membaca buku 'The true power of water'. Ternyata air yang selama ini kita anggap benda mati ternyata bisa menangkap pesan. Jika pesan yang dikirimkan adalah pesan jelek maka akan terbentuk tampilan kristal yang jelek. Tetapi jika pesan yang dikirimkan adalah pesan yang bagus maka kristal yang terbentuk sungguh indah dan sempurna. Kalau dipikir apasih susahnya mengucap kata baik contohnya terimakasih kepada sekeliling kita. Tapi ternyata kebanyakan kita sangat sulit untuk mengucapkannya. Kita terlalu egois dan sombong untuk berterimakasih atas kebaikan yang kita terima. Kubayangkan bagaimana indahnya respon jiwa jika mendapat perkataan yang bagus jika dibandingkan dengan air yang notabene tidak mempunyai perasaan. Pasti sangat indah.
Bismillah, kuberniat dan kukan berusaha untuk berkata bersikap baik, atau kalo itu belum dapat kulakukan maka aku akan berusaha utuk tidak berkata bersikap jelek. Rabb, hanya kepadaMulah ku mohon bimbingan dan pertolongan

Thursday, March 09, 2006

Lewat semut aku diingatkan

Banyak semut dirumahku..
gara-gara kamu jarang bersih-bersih

Teringat lagi aku akan lagu masa kanak-kanak dulu,
Yah memang akhir-akhir ini banyak semut dirumahku
Padahal aku sudah berusaha membersihkan rumahku dan berusaha untuk tidak mencecerkan remah-remah makanan.
Kalau melihat kerumunan semut yang banyak itu aku jadi merinding, entah apa sebabnya

Selama dua minggu ini aku masuk kerja siang dan jam 7 malam baru pulang. Kemarin sewaktu pulang dari kantor aku malas sekali untuk mandi karena badan terasa dingin. Sehabis makan malam aku ngobrol dulu, belum lama ngobrol tanganku udah terasa gatal sekali. Ternyata sudah bentol-bentol karena gigitan semut. Anehnya yang digigit hanya aku sedang yang lainnya bebas. Yah terpaksa deh diri ini mandi. Ternyata sehabis mandi badan ini terasa segar dan Alhamdulillah gatal-gatal hilang. Subhanalloh ternyata semut-semut itu membawa pesan kalo aku harus mandi.

Kemarin pagi setelah subuh aku berencana untuk mencuci karena keranjang pakaian kotorku sudah penuh. Tapi setelah sholat subuh terasa malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur. Lagi enak-enak tiduran badanku terasa gatal-gatal dan ternyata sahabatku si semut telah membuat badanku bentol-bentol lagi. Segera sirna rasa kantuk dan malasa yang sedari tadi menggelayutiku. Akupun segera beranjak untuk mencuci pakaian kotorku. Subhanalloh rasa gatal itu segera hilang.

Ternyata semut-semut itu tidak menggigitku sembarangan. Mereka dikirim untuk membantuku terhindar dari kemalasan.

Monday, February 13, 2006

Kisah Si Laras

Hari Kamis

“Mbak masih ingat sama mbak Laras yang dulu pernah di sini dan sekarang kuliah di UNS?” tanya Ela kepadaku. “O yang dari Jogja itu ya, yang tetangganya ibu”, kataku.
“He eh yang itu, kemarin kan Bapak main ke Yogya dan Bapaknya Mbak Laras itu curhat ke Bapak. Beliau lagi pusing mikir Mbak Laras”, cerita si Ela. Lalu aku bertanya kepadanya “Lho emang apa yang terjadi dengan si Laras, La?”
“Katanya Mbak Laras sekarang jadi aneh sejak ikut ngaji teman-teman dikampusnya”, kata Ela. “Bagus kan kalo ikut ngaji, dulu pas main kesini aku liat juga si Laras sekarang pake jilbab dan kemarin pas nikahnya Mas Dudi ia juga dateng kan. Keliatannya biasa aja tuh” cerocosku ke Ela. “Iya dulu sih biasa, tapi sekarang udah beda Mbak. Sekarang pakai jubah dan bercadar, juga kalo ngaji katanya lama banget. Kalo ada saudara laki-laki ga mau nemuin. Dibilangin sama Bapak Ibunya jadi suka membantah. Bapaknya takut kalo Mbak Laras itu ikut aliran yang aneh-aneh karena Mbak Laras jadi berubah banget. Dinasehati suah sekali”, cerita si Ela. “ Coba deh La tanyain siapa Ustadzahnya, siapa tahu Ustadzahku kenal dan tahu kelompok ngaji apa yang diikuti si Laras itu”, kataku ke Ela. “ Iya deh Mbak nanti coba tak tanyain”, jawab si Ela.

Hari Minggu

Pada minggu pagi ini aku berangkat diniyah untuk mengambil rapor kenaikan kelas. Jam 08.00 aku berangkat bareng Syifa. Sesampai di diniyah sudah terlihat beberapa akhwat yang datang. Kami langsung gabung dengan mereka untuk melepas rindu karena sudah beberapa minggu inin kami libur. Saat kami ngobrol datang 2 orang akhwat berboncengan. “Lho yang di belakang itu kan si Laras dan ternyata yang di depan itu Mbak Zahra Ustadzah Tahsin yang sangat kukagumi bacaannya”, kataku dalam hati. “Assalamualaikum .Lho Mbak Lya sekolah di sini juga ya, kelas berapa?” tanya si Laras ketika melaihatku. “Wa alaikum salam. Iya ya kok kita bisa ketemu disini. Gimana kabare? Aku kelas dua. Kamu daftar di sini ya Ras?”, kataku kepadanya. “Alhamdulillah baik Mba, Iya aku baru mau masuk diniyah, aku kan satu kos sama Mbak Zahra?”kata si Laras. O pantes, terjawab sudah semua penasaranku tentang diri si Laras. Berarti benar apa yang dibilang si Ela tentang Laras. Dia kan satu kos sama Mbak Zahra jadi otomatis dia terpengaruh. Banyak temanku di diniyah yang kos disitu dan hampir semua berjubah bercadar. Pemahaman agama Mbak Zahra bagus banget dan aku yakin kalau beliau bukan dari kelompok yang menyimpang.

Mungkin si Laras sekarang dapat pemahaman agama yang benar tapi dia salah cara penyampaiannya kepada keluarganya. Seharusnya dia memberi pemahaman kepada keluarganya secara pelan dan halus dulu. Yah mungkin karena dia masih muda jadi dia masih kurang bisa mengendalikan emosinya. Seharusnya Laras memilih cara yang paling bijak. Sayang sekali jika kebenaran yang disampaikan dengan cara yang kurang pas dianggap sebagai suatu kesalahan.

Dua Potong Pakaian

Departemen Store baru saja buka, mbak-mbak yang cantik sibuk menata baju-baju di etalase atau memasangnya di manekin. Pengunjung belum banyak yang datang, hanya terlihat beberapa saja.

Di suatu sudut, dua counter baju wanita yang saling berdekatan terpajang aneka rupa pakaian yang cantik. Di sebelah ruang ganti adalah counter pakaian bermerk yang harganya selangit, di sampingnya terletak counter pakaian muslimah.

Karena terbatasnya lahan yang ada maka antara satu counter dan counter lainnya saling berhimpitan dan tak ada pembatasnya. Di deretan paling depan nampak tergantung dengan cantiknya beberapa tanktop yang bahannya dari kaos. Di sampingnya tergantung dengan anggun beberapa atasan busana muslimah.

Si tanktop mempunyai warna merah menyala yang memancarkan aura segar tapi sangat berlainan dengan wajahnya yang terlihat muram. Si busana muslim yang berwarna putih tidak tega menyaksikan muka si tanpa lengan. "Hai cantik, ngapain pagi-pagi sudah terlihat muram. Bukankah sebentar lagi kau akan segera diambil orang karena model kamu belakangan ini adalah yang peling laris. Beda dengan aku yang jarang sekali orang melirikku", sapa si putih kepada si merah. "Iya sih memang aku adalah baju yang paling digemari, setiap wanita yang mengaku gaul pasti mengoleksiku" jawab si merah masih dengan muka masamnya. "Harusnya kau bersyukur merah, karena tujuan kau ada adalah untuk digunakan. Dengan ada yang memakaimu berarti tugasmu terlaksana. Bukankah itu hal yang mulia?" tanya si putih lagi. "Emang sih aku sudah menyelesaikan tugasku tapi apa kau tidak pernah berpikir kalo mereka yang memakaiku itu auratnya jadi terbuka. Kamu lihat sendiri seberapa besar diriku ini. Kalo dipakai yang tertutup juga hanya sebagian, ketat lagi. Aku sedih karena sekarang aku banyak dipakai sebagai baju luar, padahal dulu kan aku dipakai sebagai baju dalaman", si merah mencurahkan segala beban rasanya. Lanjutnya, "Dan tambah sedihnya lagi banyak yang memakaiku adalah muslimah. Apa mereka tidak tahu ya syarat berbusana itu bagaimana. Kan harus menutup seluruh tubuh kecuali hanya muka dan tangan saja yang boleh kelihatan, tidak boleh ketat dan transparan". "Sudahlah itu kan kesalahan mereka bukan kesalahanmu", hibur si putih. "iya sih tapi akulah yang menyebabkan mereka melakukan dosa besar, gimana kalo aku dimintai pertanggungjawaban besok di akhirat? Aku iri banget dengan kamu putih, kamu kalo dipakai menutupi aurat dan kamu membuat pemakaimu terhindar dari dosa besar" lanjut si merah. "Iya ya aku juga sedih kok kalo liat para pengunjung toko ini yang kebanyakan memamerkan aurat mereka. Ya udah berdo'a saja semoga yang membelimu adalah wanita sholehah yang memakaimu sebagai dalaman atau dipakai kalo dihadapan para suami mereka" hibur si putih. "Makasih putih, kau sedikit membuatku lega. Yah semoga yang mengambilku adalah wanita sholehah. RABB ampuni segalanya ya, aku tiada kuasa", doa si putih. "Yah gitu dong itu baru sahabatku" sahut si putih gembira.

Dua potong pakaian itupun kembali ceria menanti datangnya sang pembeli.

Friday, February 10, 2006

Duh, hutang budi..

Hari itu tanggal 9 Muharram aku masuk kerja sore hari dan kebetulan aku berpuasa sunah Tasyu'a. Waktu maghrib tiba aku segera berbuka dengan minum teh hangat dan makan roti kering yang siang harinya kubeli di warung sebelah. Perut masih terasa lapar walau telah beberapa potong roti kumasukkan kedalamnya. Kutunaikan shalat Maghrib terlebih dulu sebelum kulanjutkan makan.

Menjelang Isya' 2 temenku keluar makan malam bersama seorang mahasiswa, sekalian aja aku nitip untuk dibungkuskan. Beberapa saat kemudian makanan datang, tapi tidak langsung kumakan tapi kubawa pulang saja karena sudah waktunya pulang. Aku mau mengganti uang ke teman yang aku titipi tadi. Tapi kedua temenku tersebut senyum-senyum sambil bilang kalau makanan tadi ditraktir oleh si mahasiswa. Waduh ga enak nih rasanya, karena nitip. Dengan malu aku mengucapkan terima kasih kepada si mahasiswa itu. "Kalau tahu ditraktir mending tadi ga nitip aja", begitu kataku dalam hati.

Beberapa hari setelahnya si mahasiswa telepon tanya tentang tugasnya dan minta tolong untuk dilihatkan apa dia termasuk yang harus mengumpulkan tugas. "Wah ga enak nih untuk menolak kemarin kan habis ditraktir", bisikku. Dan si mahasiswa tadi menjadi sok akrab denganku.

Aku hanya ingin memberikan pelayanan karena itu adalah tugas yang harus aku laksanakan bukan karena uang atau makanan atau bentuk lainnya.

Aku jadi teringat dengan apa yang kulakukan beberapa waktu yang lalu sewaktu merevisi Transkip Nilaiku. Karena keterbatasan waktu yang kupunyai aku lalu memberi uang lebih kepada petugasnya dan ajaib si petugas menjadi sangat baik kepadaku dan Transkip Nilai terproses lebih cepat. Padahal kalau mengurus sendiri wajah ga pedulilah yang disodorkan oleh si petugas tadi dan waktu yang dibutuhkan lebih lama. Sebenarnya pemberian uang lebih ini tidak kusukai, lebih baik aku mengurus sendiri secara normal. tapi waktuku tidak memungkinkan.

Aku tidak suka dihormati, diberi pelayanan lebih hanya gara-gara uang.

Yah sebenarnya ini kesalahanku sendiri, aku melakukan sesuatu yang sebenarnya kurang aku sukai. Dan akhirnya ini berbalik sendiri kepadaku.

Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga dariku dan semoga aku bisa menjadi lebih bijak jika mendapati hal yang serupa dengan ini

Thursday, February 09, 2006

Cantik dari Alam

Saat ini segala macam upaya dilakukan oleh para wanita agar terlihat cantik dan putih. Mereka rela merogoh koceknya agak dalam untuk pergi ke klinik kecantikan. Sebenarnya alam telah menyediakan begitu banyak sumber daya yang dapat digunakan untuk kecantikan wanita. Selain harganya yang sangat murah, mudah untuk mendapatkannya karena telah ada di sekitar kita juga efek samping yang ditimbulkan sangat sedikit malah mungkin tidak ada.

Berikut ini ada beberapa tumbuhan atau buah yang dapat digunakan untuk merawat kecantikan wanita :

1. Alpukat
Baik untuk merawat kekenyalan wajah. Lumatkan alpukat hingga halus, lalu oleskan ke wajah dan biarkan beberapa saat hingga mengering. Kemudian bersihkan wajah dengan air hangat.

2. Kentimun
Selain untuk menghilangkan noda di wajah, ketimun dapat pula digunakan untuk mendinginkan wajah. Untuk membersihkan noda, parut ketimun, kemudian gosokkan dengan lembut pada wajah. Atau biarkan menempel selama beberapa saat di wajah hingga terasa dingin.

3. Bengkuang
Ini juga baik untuk mengencangkan kulit wajah. Kupas dan parut bengkuang, kemudian endapkan beberapa saat hingga air dan ampasnya terpisah. Lulurkan ampasnya di wajah, kemudian bersihkan dengan air suam-suam kuku.

4. Wortel
Buah ini kaya akan bekaroten. Cara pemakainnya pun sama dengan bengkuang. Lakukan perawatan dengan wortel seminggu sekali.

5. Lidah buaya
Tanaman ini berkhasiat untuk memberikan kelembapan pada kulit dan menghapus noda. Cara pemakaiannya ambil lidah buaya, kupas kulitnya maka akan kita dapati lendirnya. Nah oleskan lendir ini pada wajah. setelah beberapa waktu bilas dengan air hangat.

Nah murah, mudah bukan. Selamat mencoba

Dan Allah membalasnya dengan begitu cepat

Liburan 1 Muharram kemarin pulang ke rumah. Sudah 3 minggu tidak pulang. Kebetulan ada seorang sahabat yang pengen main kerumah, jadi sekalian bareng. Segenap rindu yang selama ini terpendam terlepas sudah. Bahagia, sepotong syukur kepada sang RABBI yang telah memberikan sebuah keluarga yang hangat dan masih menganugerahkan sepenggal waktu untuk saling berjumpa.

Seperti biasa, setiap kali pulang aku sisihkan sedikit penghasilanku untuk uang saku adikku. Begitu juga waktu pulang kemarin. Aku menganggap hal itu sebagai kebiasaan. Tapi sungguh benar janji Allah, bahwa IA akan membalas berlipat-lipat dari nilai yang kita sedekahkan. Beberapa hari kemudian aku mendapat uang arisan yang nilainya banyak kali dari nilai yang kuberikan kepada adikku.

Beberapa hari yang lalu sahabatku masuk rumah sakit. Sebisanya aku membantunya walaupun nilainya tidak seberapa. Janji ALLAH terbukti lagi. beberapa hari kemudian aku mendapat oleh-oleh dari atasanku yaitu berupa sebuah jilbab dan 2 pasang bros. Subhanalloh Alhamdulillah

Kemarin aku melakukan puasa sunah. waktu buka aku membeli sebungkus roti dan kumakan bareng-bareng rekan kerjaku. Subhanalloh beberapa saat kemudian aku mendapat ganti seporsi nasi bebek yang 2x lebih mahal dari harga rotiku.

Padahal yang diatas itu baru nikmat-nikmat yang nampak dan dapat dihitung secara materi, diluar itu masih sangat banyak lagi nikmat yang kita dapat

Sungguh janji ALLAH manakah yang masih kau ragukan?
tapi mengapa sering kali kita masih meragukannya..........

Friday, January 20, 2006

Ingin segera kulewati rasa ini

Kini aku melalui masa-masa yang seperti dulu lagi
Masa dimana ada sedikit ruang hampa disudut hati ini
Asa, itu masih tetap ada tapi asa yang masih abstrak

bertahun-tahun sudut itu terisi dengan asa yg tiada pasti dan penantian sebuah jawaban,
lama, sakit, indah, was-was semua beraduk jadi satu
lelah rasanya menjalani masa-masa itu
sebuah kepastian akhirnya menghentikan semuanya
ringan, lega walau akhirnya ada satu sudut yg kosong lagi
RABB, mohon maaf atas smua khilaf yg tlah kulakukan

Satu babak baru terhadapkan, satu asa terbersit
tapi...... babak ini tak seperti yg kuharapkan
aku putuskan tuk tak melanjutkan babak ini lagi
pecundangkah aku?
pengecutkah aku?
aku tak mampu membayangkan segala rintangan yg terhadang di depan
Kosong lagi sudut itu

RABB, jenuh aku melalui lagi masa-masa ini
hamba mohon kekuatan tuk melewatinya
hanya dengan mengingatMU lah aku jadi mempunyai kekuatan untuk melangkah songsong kehidupan yang terus berjalan
Kapan ya RABB, sudut hati yg kosong ini terisi?

Thursday, December 22, 2005

Kasihmu Bundaku

Bunda....
ada dan tiada dirimu
kau selalu ada di dalam hatiku

Sejuknya embun pagi masih kurasakan, seiring dengan rintik hujan yang tercurah dari langit
Sang mentari masih belum menampakkan diri, langit masih tertutup awan
Syahdu sekali pagi ini
Sayup-sayup kudengar penggalan lagu yang dinyanyikan oleh Melly

Bunda, itulah judul lagu itu
Yah hari ini 22 Desember adalah hari ibu

Pikirku langsung melayang kepada sosok ibuku nun jauh di sana
Beliau pasti sedang sibuk bekerja pada saat ini

Kalau ditanya siapakah wanita terkuat yg kau kenal?
Ibuku, itulah jawabku
Kalau ditanya siapakah wanita tercantik yg kau kenal?
Ibuku, itulah jawabku
Kalau ditanya siapakah wanita terlembut yg kau kenal?
Ibuku, itulah jawabku
Kalau ditanya siapakah wanita terkasih yg kau kenal?
Ibuku, itulah jawabku

Kasih sayangmu tak dapat digambarkan oleh untaian kata apapun
Jasamu tak dapat dibalas dengan tindakan apapun

Ibu, hanya doaku dan baktiku yang kupersembahkan untukmu

RABB sayangi ibuku sebagaimana beliau menyayangiku sejak kecil
RABB tuntun selalu langkah beliau di dalam ridhoMU
RABB berilah kesehatan kepada beliau
RABB anugerahkan rejeki yang halal juga berkah kepada beliau
RABB beri kekuatan kepada beliau

"Untuk ibuku : Aku sangat sayang kepadamu ibu"

Monday, December 19, 2005

Kecewaku karena tak menepati komitmenku sendiri

Seperti biasa setiap sabtu sore ada kajian sepekan sekali, tapi sabtu kemarin kami bertiga tidak dapat menghadirinya karena di kos lagi punya kerja. Lalu kuusulkan untuk diganti harinya pada minggu sore. Semua menyetujui usulku ini.

Di kos mulai jum'at sore sudah berdatangan saudara-saudara bapak dan ibu kos yang berasal dari luar daerah. Minggu pagi kesibukan telah dimulai karena siangnya akan digelar resepsi pernikahan di gedung. Kedua mempelai dan para panitia perhelatan mulai dirias.

Perhelatan berjalan lancar, banyak tamu yang datang dan semuanya menikmati jamuan yang tersaji pada siang itu. Pesta berkahir pada jam 12.30 WIB. Sesampai di kos aku langsung sholat lalu tidur karena badanku terasa penat sekali. Sesaat kemudian aku gabung dengan keluarga ibu kos, ternyata mereka tengah mendistribusikan sisa makanan resepsi tadi yang jumlahnya banyak sekali. Kami larut dalam kesibukan ini.

Saat kulihat jam ternyata sudah jam 3 sore, aku lalu teringat dengan komitmen kajian yang telah disapakati kemarin. Tapi di kos masih repot sekali dan sepertinya baru selesai maghrib nanti. Aku bingung, kalau mau pergi kajian ga enak sama ibu kos tapi kalau ga berangkat kajian berarti aku melanggar komitmen yang telah kuusulkan sendiri. Lalu aku putuskan untuk ijin kajian, aku mengirim pesan kepada ustadzah yang mengampu kajian tersebut. Beliau kecewa dengan keputusanku tersebut. Melihat respon tersebut lalu kuputuskan untuk berangkat kajian walau telah terlambat. Untuk mengabarkan perihal keterlambatanku kukirimkan sebuah pesan kepada ustadzah. Tapi sayang pesan balasannya mengabarkan kalau ustadzah telah pulang dan kajian ditiadakan.

Duh aku mengakui kalau semua ini kesalahnku karena telah melanggar kesepakatan kemarin. Tapi keadaan di kos darurat sekali, banyak kerjaan dan saudara-saudara sudah pulang. Lalu siapa lagi yang akan membantu kalau bukan kami anak-anak kos. Aku tidak membayangkan kalau keadaanya seperti ini.

Badan ini lemes dan pengen nangis rasanya. Hancur sudah kredibilitas yang kubangun selama ini. Aku telah mengecewakan orang yang selama ini telah mempercayaiku. Aku harus berjuang lagi untuk mengembalikan semuanya. Mungkin aku salah dalam menentukan prioritas. Lelah rasa badan dan jiwa ini. Ya RABB hanya ENGKAUlah yang Maha Tahu segalanya, semoga diri ini bisa lebih bijak lagi dalam bertindak. Ampuni segala kesalahanku ya RABB

Thursday, December 15, 2005

Ukhuwahku Sayang

Tadi malam sebuah pesan kukirimkan ke sahabatku. Aku akan mengunjunginya karena ada suatu persoalan yang kuhadapi. Pagi-pagi sekali aku pergi menuju rumahnya. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ia menemuiku.

Kuceritakan semua yang mengisi kepalaku ini, ia mendengarkanku dengan tekun. Setelah ceritaku selesai ia menuturiku dengan berbagai nasehat yang melegakan dan menenangkanku.

Sungguh indahnya ukhuwah ini. Kami saling kenal baru beberapa bulan ini. Skenario Allah telah menyatukan kami dalam satu kelompok pengajian. Yah karena Allahlah kami bertemu, saling menasehati.

Latar belakang, status sosial tidak menjadi penghalang. Mereka datang disaat kita membutuhkan.

Kutemukan keluarga yang baru, saudara yang baru........

Untukmu

"Maafkan diriku seandainya tiap bicara, tiap tingkah laku, tiap keputusan, tiap buah fikiran, tiap perasaan... tiada keserasian, tiada kesejiwaan, tiada kesamaan maUpun yang di harap tak kunjung tiba.. aku hanya insan biasa...ketahuilah rindu, sayang, dan cinta itu tak ternilai dengan kata-kata... Cobalah tampakkan dengan perbuatan yang mungkin dapat dirasakan, dinilai maupun dijadikan bukti yang hakiki... moga ia kekal hingga ke hari ini..."

( Afwan Akh, tulisanmu disini, Bagus banget lhoo.. )

Tuesday, December 13, 2005

Hidayah-NYA

Kemarin aku menghadiri walimatussafar yang diadakan oleh salah satu temanku. Beliau akan melaksanakan rukun haji yang kelima pada musim haji tahun ini. Selama acara terpancar rona bahagia di wajah beliau. Siapa orangnya yang tidak bahagia kalau sebagai seorang muslim ia dapat melaksanakan haji.

Menilik ke belakang, perjalanan keimanan beliau sangat berliku. Tapi sungguh hanya kasih sayang_NYA lah yang dapat membuat beliau seperti sekarang ini. Beliau terlahir dari keluarga yang taat menjalankan syariat Islam yang tentu saja berpengaruh kepada agama yang dianut beliau. Namun setelah dewasa, beliau menikah dengan seorang non muslim dan beliau mngikuti agama suaminya tersebut. Kenyataan ini membuat sedih keluarga dan sahabat2nya. Hingga takdir berbicara lain. Suaminya tersebut terlebih dahulu dipanggil olehNYA. Sepeninggalan suaminya, beliau kembali ke orang tuanya. Setelah beberapa waktu beliau akhirnya kembali menjadi seorang muslimah. Beliau pergi ke tanah suci untuk melaksanakan umroh dan akhirnya belaiu dipanggil olehNYA untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun ini.

Sungguh perjalanan keimanan yang sangat berliku. Allah menunjukkan bahwa hanya DIAlah yang berhak untuk membolak-balikkan hati seseorang, hanya DIAlah yang berkuasa atas segala sesuatu.

Ya RABB anugerahkanlah hidayahMU kepada kami dan janganlah ENGKAU cabut hidayah tersebut setelah kami dapatkan
Ya RABB bimbinglah kami untuk selalu istiqomah dijalanMU
Ya RABB tunjukkanlah kami jalan yg lurus

Saturday, December 10, 2005

Kaos kakiku

Pagi ini kulangkahkan kaki menuju pasar untuk mencari sarapan
Udara pagi terasa segar memenuhi dada karena polusi belum begitu banyak
Jarak antara rumahku dan pasar tidaklah jauh jadi lebih enak jalan kaki sekalian berolahraga.

Meskipun hari masih pagi, pasar sudah ramai. Lalu kutuju penjual nasi langgananku. Tak lupa kubeli buah karena persediaan buahku sudah habis.
Hanya sekitar sepuluh menit semua kebutuhanku telah kudapatkan. Aku buru-buru mengayunkan langkah karena aku ingin segera sampai rumah.

Ketika melewati sebuah warung ada seorang ibu yang berkata dengan suara yang lumayan keras "Mbak, Mbak takut kelihatan apanya sih? Sudah pake rok panjang masih pake celana panjang dan kaos kaki juga..."
Aku tengok kanan kiri, "kok sepi" gumamku dalam hati.
"Ups yang dimaksud itu aku to". Aku baru nyadar kalo ibu itu mengomentari penampilanku.

Ingin aku balik ke ibu itu dan mengatakan kalo yang aku lalukan adalah dalam rangka melaksanakan perintah Alloh untuk menutup auratku.
Aku takut sama murkaNYA. Memang aku kebiasaan memakai celana panjang dibalik rokku atau terusanku karena langkahku lebih bebas dan merasa lebih aman saja. Kalau ada apa-apa kan tinggal lari aja, toh aku pake celana panjang.

Tapi kuurungkan niatku, ah biarlah ibu itu berkata begitu. mungkin beliau belum tahu atau ga mau tahu. Kudoakan ibu itu agar disayang olehNYA.

Pagi ini aku mendapatkan satu pelajaran, aku harus tahu ilmunya dulu untuk mengomentari sesuatu. Kalo aku belum tahu ilmunya lebih baik aku diam. Semoga aku diberi kesempatan untuk menyampaikan syariah ini pada ibu itu dan yang lainnya......

Friday, December 09, 2005

Ketika Harapan Itu Menjauh

harapan, engkau datang tanpa diundang
kau datang bersama dengan perjumpaan
engkau bersemayam dan berkembang di dalam hati
kenangan demi kenangan tlah menyiramimu dan memupukmu
sehingga kau tumbuh dengan suburnya

Waktu demi waktu telah terlewati
Perlahan-lahan sang kenangan menjauhi hati
tanpa dimengerti apa alasannya
tapi kau harapan masih saja segar berdiri
Rasa penasaran semakin menegakkanmu

Namun sang hati menjadi terluka karenanya
panjangnya sang waktu semakin membuat kau terkoyak

Hingga suatu saat sang jawaban datang
Salah paham
yah salah pahamlah yang ternyata membuat seperti ini
mengapa hanya karena hal sekecil itu?
Akhirnya harapan kau pergi, menguap bersama sang kenyataan
Kau pergi meninggalkan goresan di hati

Yah tapi nasi sudah menjadi bubur
tak patut lagi untuk terus ditangisi diratapi
karena air mata tak bisa mengembalikan segalanya
karena sang segala telah pergi

pelajaranlah yang harus diambil
langkah baru harus segera terayun

lihat senyum cerah sang mentari
rasakan kelembutan sinarnya membelai kulit

kegagalan membuka seribu kesempatan untuk mendapat yang lebih baik

Diri Ini

Diri ini tidaklah setakwa ibunda Siti Khadijah

Diri ini tidaklah sepandai Aisah

Diri ini tidaklah setabah Fatimah

Diri ini sangatlah jauh dari mereka semua

Diri ini hanyalah wanita akhir zaman
yang sedang dan selalu belajar, berusaha agar menjadi sholihah

Semoga.........